MENYINGKAP ALAM GHAIB 2

MENYINGKAP ALAM GHAIB 2

3.    Seorang hamba dengan Ilmu dan Kehendak Allah s.w.t berpotensi dapat melihat dan mengetahui alam gaib.

Ketika  Nabi s.a.w bermi’roj dengan dikawal malaikat Jibril, Beliau dipertontonkan oleh Allah s.w.t kepada alam gaib. Yakni keadaan di surga, di neraka dan keadaan-keadaan yang akan menimpa umatnya di masa yang akan datang. Dengan ini menunjukkan bahwa yang dimaksud alam gaib itu bukan alam Jin atau alam Malaikat dan bahkan alam Ruh (ruhaniah), semua itu sesungguhnya merupakan alam yang masih berada di dalam dimensi alam Syahadah walau berada pada dimensi yang berbeda dari bagian dimensi yang ada di dunia. Yang dimaksud dengan alam gaib adalah masa yang belum terjadi atau alam yang akan datang.

Surga dan Neraka dikatakan gaib karena keberadaannya setelah hari kiamat. Mati dikatakan gaib karena datangnya pada waktu yang akan datang. Jadi, hikmah terbesar dari perjalanan ruhani manusia dengan mengadakan pengembaraan ruhaniah (bertawasul) untuk berisro’ mi’roj kepada Allah s.w.t dengan ruhaninya, adalah terbukanya hijab-hijab basyariah sehingga dengan matahatinya atau firasatnya yang tajam manusia dapat mengetahui alam gaib atau apa-apa yang akan terjadi pada dirinya.

Kejadian-kejadian yang terjadi pada masa dahulu dan yang akan datang dikatakan gaib. Alam barzah dan alam akherat, tentang neraka, tentang shiroth, semuanya dikatakan gaib karena kejadiannya pada masa yang akan datang. Demikian pula sejarah-sejarah para Nabi terdahulu dikatakan gaib, karena terjadi pada masa lampau. Allah s.w.t telah menyatakan dengan firman-Nya:

ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ

“Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang kami wahyukan kepada kamu (Ya Muhammad) padahal kamu tidak hadir beserta mereka” . (QS. Ali Imran; 3/44)

Tidak ada yang mengetahui hal yang gaib kecuali hanya Allah s.w.t. Kalau ada seseorang ingin mengetahuinya, maka jalannya hanya satu yaitu dengan mengimani apa-apa yang sudah disampaikan oleh Wahyu Allah s.w.t, kemudian ditindaklanjuti dengan amal ibadah (mujahadah dan riyadhah). Selanjutnya, apabila Allah s.w.t menghendaki, maka orang tersebut akan dibukakan matahatinya. Allah s.w.t telah mengisyaratkan demikian dengan firman-Nya:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ

“Dan pada sisi Allahlah Kunci-kunci semua yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah”. (QS. al-An’am;  6/59)

Apa yang akan terjadi dalam waktu satu jam mendatang dikatakan gaib. Karena tidak ada yang dapat mengetahuinya kecuali hanya Allah s.w.t. Kalau ada seseorang yang mempunyai firasat tajam kemudian dia seakan-akan mengetahui apa-apa yang akan terjadi, hal itu bisa terjadi, karena yang demikian itu dia melihat dengan “Nur Allah”. Demikianlah yang disebutkan di dalam sabda Rasulullah s.a.w, yang artinya:”Takutlah kamu akan firasatnya orang-orang yang beriman, karena sesungguhnya dia melihat dengan Nur Allah”.

Kadang-kadang hanya dengan kekuatan cinta, firasat seseorang bisa menjadi tajam kepada orang yang dicintainya. Seorang ibu misalnya, yang sedang jauh dengan anaknya, kadang-kadang tanpa sebab, ibu itu mengalami perasaan yang gundah-gulana, ketika dia mencoba menghubungi anaknya, ternyata anaknya sedang sakit. Kalau kekuatan cinta antara sesama makhluk saja—bahkan kadang terjadi dalam kondisi yang masih haram misalnya, mampu menjadikan tajamnya firasat, apalagi cinta seorang hamba terhadap Tuhannya.

Seorang hamba yang selalu bertafakkur, memikirkan Kekuasaan dan Kebesaran Allah s.w.t hal tersebut semata-mata terbit dari dorongan rasa cinta dan rindunya, hatinya akan menjadi bersih dari kotoran-kotoran yang menempel, bersih dari hijab-hijab yang menutupi dinding penyekat alam batinnya sehingga pada gilirannya matahatinya akan menjadi cemerlang dan tembus pandang. Demikian itu telah ditegaskan Allah s.w.t dengan firman-Nya:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Orang-orang yang bermujahadah di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjuki kepada mereka jalan-jalan Kami”. (QS. al-Ankabut; 29/69)

Apa saja yang terjadi di waktu yang akan datang, dari urusan rizki, urusan jodoh, urusan mati dan sebagainya, baik penderitaan ataupun kebahagiaan, yang terjadi di dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akherat, semua itu dikatakan hal yang gaib, karena tidak ada yang mengetahuinya kecuali hanya Allah. Adapun Jin dan Malaikat dan bahkan Ruh atau ruhaniah tidaklah termasuk dari golongan Alam Gaib dalam arti yang disebut Metafisika akan tetapi termasuk dari golongan Alam Syahadah atau yang disebut Alam Fisika, hanya saja fisiknya berbeda dengan fisik manusia. Bau harum misalnya, walau tidak tampak fisiknya, tidak termasuk Alam Gaib tapi Alam Syahadah, atau alam yang bisa dirasakan, hanya saja untuk merasakannya membutuhkan alat, dan alat itu ialah indera penciuman.

Seandainya ada seseorang yang tidak mempunyai indera penciuman atau indera penciumannya sedang rusak misalnya. Walaupun orang lain dapat merasakan bau harum, dia tidak, yang demikian itu bukan karena bau harum itu tidak ada, tapi karena indera penciuman orang tersebut sedang tidak berfungsi. Demikian juga terhadap suara, akan tetapi untuk merasakan suara membutuhkan alat yang berbeda. Kalau merasakan bebauan dengan alat hidung, maka merasakan suara dengan alat telinga. Orang tidak bisa merasakan bau harum dengan telinga dan suara dengan hidung, masing-masing harus dirasakan dengan alat yang sudah dipersiapkan Allah s.w.t menurut kebutuhan kejadiannya. Seperti itu pulalah keadaan yang ada pada dimensi yang lain, dimensi jin, dimensi malaikat dan bahkan dimensi ruhaniah.

Jin dan malaikat misalnya, sebenarnya mereka juga adalah makhluk fisik, bukan metafisika. Asal kejadian fisik jin diciptakan dari api, sedang fisik malaikat diciptakan dari cahaya. Sebagaimana manusia yang asal kejadiannya diciptakan dari tanah, bentuk kejadian selanjutnya tidaklah tanah lagi, melainkan terdiri dari tulang dan daging, maka demikian juga yang terjadi terhadap makhluk jin dan malaikat.

Meskipun fisik jin diciptakan dari api dan malaikat diciptakan dari cahaya, kejadian selanjutnya tidaklah api dan cahaya lagi, tapi dalam bentuk fisik tertentu yang oleh Allah s.w.t telah ditetapkan tidak bisa dirasakan dengan indera mata manusia. Namun demikian, bentuk fisik jin dan malaikat itu boleh jadi bisa dirasakan oleh manusia dengan indera yang lain selain indera mata. Indera tersebut bisa disebut dengan nama atau istilah apa saja, indera keenam misalnya, atau dengan istilah-istilah atau nama – nama yang lain.

Semisal suara telah ditetapkan oleh Allah s.w.t tidak bisa dirasakan oleh hidung, tapi harus didengar oleh telinga, maka telinga atau hidung hanyalah istilah-istilah yang ditetapkan bagi alat perasa yang dimaksud supaya manusia dapat dengan mudah memahami atau mengenal terhadap alat perasa tersebut. Allah s.w.t berfirman:

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ

“Sesungguhnya ia (setan jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu, dari dimensi yang kamu tidak bisa melihatnya “. (QS. 7; 27)

Bukan berarti manusia tidak dapat mengobservasi atau berinteraksi dengan jin karena jin berada pada dimensi yang di atasnya, akan tetapi hanya saja untuk mengobserfasi atau berinteraksi dengan jin itu manusia tidak bisa dengan mempergunakan indera mata. Sebagaimana berinteraksi dengan suara tidak bisa mempergunakan indera hidung, akan tetapi harus mempergunakan alat perasa yang lain yang sesuai menurut kebutuhannya.

Allah s.w.t menghendaki manusia tidak dapat melihat jin, karena sesungguhnya matanya sedang tertutup oleh hijab-hijab basyariah. Ketika penutup mata itu dibuka, maka penglihatan manusia akan menjadi tajam. Artinya mempunyai kekuatan untuk tembus pandang sehingga saat itu manusia dapat merasakan alam-alam yang ada di sekitarnya. Allah s.w.t telah menegaskan hal itu dengan firman-Nya:

فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ

“Maka Kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu   pada hari itu menjadi amat tajam “. (QS.Qaaf.; 50/22).

Istilah yang dipergunakan Allah s.w.t untuk membuka penutup penglihatan manusia di dalam ayat di atas adalah firman-Nya: فكشفنا عنك غطاءك   “Fakasyafnaa ‘anka ghithooaka” Kami singkapkan darimu penutup matamu, atau penutupnya dihilangi, atau hijabnya dibuka. Ketika manusia tidak dapat berinteraksi dengan dimensi yang lain berarti karena penglihatannya sedang ada penutupnya. Oleh karena itu ketika penutup itu dibuka, maka penglihatannya menjadi tajam atau tembus pandang. Ini adalah rahasia besar yang telah menguak sebuah misteri tentang alam-alam yang ada di sekitar alam manusia.

Bahwa jalan untuk menjadikan mata manusia menjadi tembus pandang supaya kemudian manusia mampu berinteraksi dengan dimensi yang lain,—dengan istilah melihat jin misalnya, adalah hanya dengan mengikuti tata cara yang berkaitan dengan istilah di atas. Tata cara itu ialah dengan jalan melaksanakan mujahadah di jalan Allah. Sebagaimana yang telah disampaikan Allah s.w.t dalam firman-Nya di atas, QS. 29/69 yang artinya: “Dan orang-orang yang bermujahadah di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjuki kepada mereka jalan-jalan Kami”.( QS. 29; 69)

Allah s.w.t yang menciptakan Hukum Alam secara keseluruhan. Maka hanya Allah s.w.t pula yang mampu merubahnya. Seandainya seorang hamba menginginkan terjadi perubahan terhadap hukum-hukum tersebut, maka tidak ada cara lain, dia harus tunduk dan mengikuti hukum-hukum yang sudah ditetapkan pula, meskipun perubahan yang dimaksud tersebut, juga merupakan sunnah yang sudah ditetapkan.

“Mujahadah di jalan Allah”, adalah suatu istilah untuk menyebutkan sesuatu yang dimaksud. Atau nama dari suatu tata cara bentuk sarana untuk mendapatkan petunjuk dari Allah s.w.t. Supaya dengan itu penutup mata manusia dibuka sehingga penglihatannya menjadi tajam. Sedangkan hakekat mujahadah sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah s.w.t, hanya Allah s.w.t yang mengetahuinya. Oleh karena itu, kewajiban seorang hamba yang menginginkan terjadinya perubahan-perubahan atas dirinya supaya usahanya dapat berhasil dengan baik, yang harus dikerjakan ialah, terlebih dahulu dia harus mengetahui dan mengenal dengan benar terhadap apa yang dimaksud dengan istilah mujahadah itu.

Oleh karena yang dinamakan mujahadah tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek ilmu pengetahuan saja, melainkan juga amal atau pekerjaan, bahkan mujahadah adalah ibarat kendaraan yang akan dikendarai manusia untuk menyampaikannya kepada tujuan, maka cara mengenalnya, lebih-lebih cara mengendarainya, seseorang harus melalui tahapan praktek dan latihan. Untuk kebutuhan ini—seorang hamba yang akan melaksanakan mujahadah harus dibimbing seorang guru ahlinya. Allohu A’lam.

MENEMBUS ALAM RUHANIAH

MENEMBUS ALAM RUHANIAH

Asy-Syekh Abdul Qodir al-Jailani R.A di dalam kitabnya al-Ghunyah; 1/101, menyebutkan: “Di dalam hati manusia terdapat dua ajakan: Pertama ajakan malaikat. Ajakan malaikat itu mengajak kepada kebaikan dan membenarkan kepada yang benar (haq); dan kedua, ajakan musuh. Ajakan musuh itu mengajak kepada kejahatan, mengingkari kebenaran dan melarang kepada kebajikan”. Yang demikian telah diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud R.A.

Al-Hasan al-Bashri R.A berkata: “Sesungguhnya kedua ajakan itu adalah kemauan yang selalu mengitari hati manusia, kemauan dari Allah dan dari musuh, hanya dengan sebab Rahmat Allah, seorang hamba mampu mengontrol kemauan-kemauannya tersebut. Oleh karena itu, apa-apa yang datang dari Allah hendaknya dipegang oleh manusia dengan erat-erat dan apa yang datang dari musuh, dilawannya kuat-kuat “.

Mujahid R.A berkata;  Firman Allah s.w.t:

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ

“Dari kejahatan bisikan setan yang biasa bersembunyi”.   (QS. an-Nas; 114/4)

Bisikan itu mencengkram hati manusia, apabila manusia berdzikir kepada Allah, maka setan itu akan melepaskan cengkramannya namun apabila manusia kembali lupa, maka setan itu akan kembali mencengkram hatinya. Muqotil R.A berkata: “Dia adalah setan yang berbentuk babi hutan yang mulutnya selalu menempel di hati manusia, dia masuk melalui jalan darah untuk menguasai manusia lewat hatinya. Apabila manusia melupakan Allah Ta’ala, dia menguasai hatinya dan apabila manusia sedang berdzikir kepada Allah dia melepaskan dan keluar dari jasad manusia itu“.

Asy-Syekh Abdul Qodir al-Jailani R.A berkata, bahwa di dalam hati ada enam bisikan (khotir): (1) Bisikan nafsu syahwat; (2) Bisikan setan; (3) Bisikan ruh; (4) Bisikan malaikat; (5) Bisikan akal; dan (6) Bisikan keyakinan.

1.    Bisikan Nafsu Syahwat
Bisikan nafsu syahwat adalah bisikan yang secara qudroti tercipta untuk memerintah manusia mengerjakan kejelekan dan memperturutkan hawa nafsu.

2.    Bisikan Setan
Bisikan setan itu adalah perintah agar manusia menjadi kafir dan musyrik (menyekutukan Allah), berkeluh-kesah, ragu terhadap janji Allah s.w.t cenderung berbuat maksiat, menunda-nunda taubat dan apa saja yang menyebabkan kehidupan manusia menjadi hancur baik di dunia maupun di akherat. Ajakan setan ini adalah ajakan paling tercela dari jenis ajakan jelek tersebut.

3.    Bisikan Ruh
Bisikan ruh adalah bisikan yang mengajak manusia mengikuti kebenaran dan ketaatan kepada Allah s.w.t dan juga kepada apa saja yang bersesuaian dengan ilmu pengetahuan sehingga menyebabkan keselamatan dan kemuliaan manusia, baik di dunia maupun di akherat. Ajakan ini adalah dari jenis ajakan yang baik dan terpuji.

4.    Bisikan Malaikat
Bisikan malaikat sama seperti bisikan ruh, mengajak manusia mengikuti kebenaran dan ketaatan kepada Allah s.w.t dan segala yang bersesuaian dengan ilmu pengetahuan dan juga kepada apa saja yang menyebabkan keselamatan dan kemuliaan.

5.    Bisikan Akal
Bisikan akal adalah bisikan yang cenderung mengarahkan pada ajakan bisikan ruh dan malaikat. Dengan bisikan akal tersebut sekali waktu manusia mengikuti nafsu dan setan, maka manusia terjerumus kepada perbuatan maksiat dan mendapatkan dosa. Sekali waktu manusia mengikuti bisikan ruh dan malaikat, maka manusia beramal sholeh dan mendapatkan pahala. Itulah hikmah yang dikehendaki Allah s.w.t terhadap kehidupan manusia. Dengan akalnya, supaya manusia mempunyai kebebasan untuk memilih jalan hidup yang dikehendaki namun kemudian manusia juga harus mampu mempertanggungjawabkan atas kesalahan dan kejahatan dengan siksa dan neraka dan menerima balasan dari amal sholeh dengan pahala dan surga.

6.    Bisikan Keyakinan
Bisikan yakin adalah Nur Iman dan buah ilmu dan amal yang datangnya dari Allah s.w.t dan dipilihkan oleh Allah s.w.t. Ia diberikan khusus hanya kepada para kekasih-Nya dari para Nabi, ash-Shiddiq, asy-Shuhada’ dan para Wali-wali-Nya. Bisikan yakin itu berupa ajakan yang selalu terbit dari dalam hati untuk mengikuti kebenaran walau seorang hamba itu sedang dalam lemah wiridnya. Bisikan yakin itu tidak akan sampai kepada siapapun, kecuali terlebih dahulu manusia menguasai tiga hal; (1) Ilmu Laduni; (2) Ahbārul Ghuyūb (khabar dari yang gaib); (3) Asrōrul Umur  (rahasia segala urusan).

Bisikan yakin itu hanya diberikan oleh Allah Ta’ala kepada orang-orang yang dicintai-Nya, dikehendaki-Nya dan dipilih-Nya.  Yaitu orang-orang yang telah mampu fana di hadapan-Nya. Yang telah mampu gaib dari lahirnya. Yang telah berhasil memindahkan ibadah lahir menjadi ibadah batin, baik terhadap ibadah fardhu maupun ibadah sunnah. Orang-orang yang telah berhasil menjaga batinnya untuk selama-lamanya. Allah s.w.t yang mentarbiyah mereka. Sebagaimana yang telah dinyatakan dengan firman-Nya:

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِي

“Sesungguhnya Waliku adalah Allah, dan Dia mentarbiyah (memberikan Walayah) kepada orang-orang yang sholeh”. (QS. al-A’raaf; 7/196)

Orang tersebut dipelihara dan dicukupi dengan sebab-sebab yang dapat menyampaikan kepada keridlaan-Nya dan dijaga serta dilindungi dari sebab-sebab yang dapat menjebak kepada kemurkaan-Nya. Orang yang setiap saat ilmunya selalu bertambah. Yaitu ketika terjadi pengosongan alam fikir, maka yang masuk ke dalam bilik akalnya hanya yang datangnya dari Allah s.w.t. Seorang hamba yang ma’rifatnya semakin hari semakin kuat. Nurnya semakin memancar. Orang yang selalu dekat dengan yang dicintainya dan yang disembahnya. Dia berada di dalam kenikmatan yang tiada henti. Di dalam kesenangan yang tiada putus dan kebahagiaan tiada habis. Surga baginya adalah apa yang ada di dalam hatinya.

Ketika ketetapan ajal kematiaannya tiba, disebabkan karena masa baktinya di dunia fana telah purna, maka untuk dipindahkan ke dunia baqo’, mereka akan diberangkatkan dengan sebaik-baik perjalanan. Seperti perjalanan seorang pengantin dari kamar yang sempit ke rumah yang luas. Dari kehinaan kepada kemuliaan. Dunia baginya adalah surga dan akherat adalah cita-cita. Selama-lamanya mereka akan memandang wajah-Nya yang Mulia, secara langsung tanpa penghalang yang merintangi. Allah s.w.t menegaskan hal tersebut dengan firman-Nya:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ (54) فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu, berada di taman-taman dan sungai-sungai – Di tempat yang disenangi di sisi Tuhannya yangMaha Kuasa” .
(QS. al-Qomar; 54/54)

Dan firman Allah s.w.t:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan tambahan “. (QS. Yunus; 10/26)

Firman Allah s.w.t di atas: “Ahsanuu”, artinya berbuat baik dengan menta’ati Allah s.w.t dan Rasul-Nya, serta selalu mensucikan hatinya dengan meninggalkan amal ibadah yang selain untuk-Nya. Allah s.w.t akan membalasnya di akherat dengan surga dan kemuliaan. Diberi kenikmatan dan keselamatan. Ditambahi dengan pemberian yang abadi. Yaitu selama-lamanya memandang kepada wajah-Nya yang Mulia.

“Nafsu dan Ruh” adalah dua tempat bagi setan dan malaikat. Keadaannya seperti pesawat penerima yang setiap saat siap menerima signal yang dipancarkan oleh dua makhluk tersebut. Malaikat menyampaikan dorongan ketakwaan di dalam ruh dan setan menyampaikan ajakan kefujuran di dalam nafsu. Oleh karena itu, nafsu selalu mengajak hati manusia untuk melaksanakan perbuatan-perbuatan fujur.

Di antara keduanya ada Akal dan Hawa. Dengan keduanya supaya terjadi proses hikmah dari rahasia kehendak dan keputusan Allah yang azaliah. Yaitu supaya ada pertolongan bagi manusia untuk berbuat kebaikan dan dorongan untuk berbuat kejelekan. Kemudian akal menjalankan fungsinya, memilih menindaklanjuti pertolongan dan menghindari ajakan kejelekan, dengan itu supaya tidak terbuka peluang bagi hawa untuk menindaklanjuti kehendak nafsu dan setan.  Sedangkan di dalam hati ada dua pancaran Nur, “Nur Ilmu dan Nur Iman”. itulah yang dinamakan  yakin. Kesemuanya indera tersebut merupakan alat-alat atau anggauta masyarakat hati. Hati bagaikan seorang raja terhadap bala tentaranya, maka hati harus selalu mampu mengaturnya dengan aturan yang sebaik-baiknya. (Asy-Syekh Abdul Qodir al-Jailani, “Al-Ghunyah”; 1/101)

Walhasil, yang dimaksud alam ruhaniah itu bukan alam jin atau alam ghaib, tetapi alam-alam batin yang ada dalam jiwa manusia. Alam batin yang menyertai alam lahir manusia secara manusiawi. Dengan alam batin, manakala indera-indera yang ada di dalam alam batin itu hidup, maka manusia bisa mengadakan interaksi dengan makhluk batin dengan segala rahasia kehidupan yang ada di dalamnya sebagaimana dengan alam lahir manusia dapat mengadakan komunikasi dengan makhluk lahir dengan segala urusannya.

Untuk menghidupkan indera-indera yang ada di alam batin tersebut, manusia harus mampu mencapainya dengan jalan melaksanakan mujahadah dan riyadhoh di jalan Allah. Mengharapkan terbukanya matahati (futuh) dengan menempuh jalan ibadah (thoriqoh) dengan bimbingan seorang guru mursyid sejati. Perjalanan tersebut bukan menuju suatu tempat yang tersembunyi,  melainkan menembus pembatas dua alam yang di dalamnya penuh mesteri. Dengan itu supaya ia mencapai suatu keadaan yang ada dalam jiwa yang dilindungi, supaya dengan keadaan itu ia dapat menemukan rahasia jati diri yang terkadang orang harus mencari setengah mati. Itulah perjalanan tahap awal yang harus dicapai seorang salik dengan sungguh hati. Lalu, dengan mengenal jati diri itu, dengan izin Allah selanjutnya sang pengembara sejati dapat menemukan tujuan akhir yang hakiki, yakni menuju keridhoan Ilahai Rabbi.

Dialog Iblis dengan Rasulullah SAW

Dialog Iblis
dengan Rasulullah SAW, dalam sebuah Hadits Qudsi. Allah
SWT telah memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis supaya dia
menghadap Rasulullah saw untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang
disukai maupun yang dibencinya. Hikmatnya ialah untuk meninggikan
derajat Nabi Muhammad SAW dan juga sebagai peringatan dan perisai
kepada umat manusia

Maka
Malaikat itu pun berjumpa Iblis dan berkata, “Hai Iblis! Bahwa Allah
Yang Maha Mulia dan Maha Besar memberi perintah untuk menghadap
Rasullullah saw.

Hendaklah
engkau buka segala rahasiamu dan apapun yang ditanya Rasulullah
hendaklah engkau jawab dengan sebenar-benarnya. Jikalau engkau berdusta
walau satu perkataan pun, niscaya akan terputus semua anggota badanmu,
uratmu, serta disiksa dengan azab yang amat keras.”

Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis
sangat ketakutan.

Maka
segeralah dia menghadap Rasulullah SAW dengan menyamar sebagai seorang
tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai, panjangnya
seperti ekor lembu.

Iblis pun memberi salam, sehingga 3 kali tidak
juga dijawab oleh Rasulullah saw.

Maka
sambut Iblis (alaihi laknat), “Ya Rasulullah! Mengapa engkau tidak
mejawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?” Maka
jawab Nabi dengan marah, “Hai Aduwullah seteru Allah! Kepadaku engkau
menunjukkan kebaikanmu? Janganlah mencoba menipuku sebagaimana kau tipu
Nabi Adam a.s sehingga keluar dari syurga, Habil mati teraniaya dibunuh
Qabil dengan sebab hasutanmu, Nabi Ayub engkau tiup dengan asap beracun
ketika dia sedang sujud sembahyang hingga dia sengsara beberapa lama,
kisah Nabi Daud dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan
kerajaannya karena engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga
beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara akibat
hasutanmu. Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah
azza wajalla, cuma salammu saja aku tidak hendak menjawabnya karena
diharamkan Allah. Maka aku kenal baik-baik engkaulah Iblis, raja segala
iblis, syaitan dan jin yang menyamar diri. Apa kehendakmu datang
menemuiku?”

Taklimat Iblis, “Ya Nabi Allah!
Janganlah engkau marah. Karena engkau adalah Khatamul Anbiya maka dapat
mengenaliku. Kedatanganku adalah diperintah Allah untuk memberitahu
segala tipu dayaku terhadap umatmu dari zaman Nabi Adam hingga akhir
zaman. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang engkau tanya, aku bersedia
menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, tiadalah aku berani
menyembunyikannya.”

Maka
Iblis pun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata, “Ya Rasulullah!
Sekiranya aku berdusta barang sepatah pun niscaya hancur leburlah
badanku menjadi abu.”

Apabila
mendengar sumpah Iblis itu, Nabi pun tersenyum , inilah satu peluangku
untuk menyiasati segala perbuatannya agar didengar oleh sekalian
sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai kepada seluruh
umatku.

Pertanyaan Nabi (1):

“Hai Iblis! Siapakah sebesar-besar musuhmu dan
bagaimana aku terhadapmu?”

Jawab Iblis:

“Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku yang paling
besar di antara segala musuhku dimuka bumi ini.”

Maka
Nabi pun memandang muka Iblis, dan Iblis pun menggeletar karena
ketakutan. Sambung Iblis, “Ya Khatamul Anbiya! Ada pun aku dapat
merubah diriku seperti sekalian manusia, binatang dan lain-lain hingga
rupa dan suara pun tidak berbeda kecuali dirimu saja yang tidak dapat
aku tiru karena dicegah oleh Allah. Kiranya aku menyerupai dirimu, maka
terbakarlah diriku menjadi abu. Aku cabut iktikad / niat anak Adam
supaya menjadi kafir karena engkau berusaha memberi nasihat dan
pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama Islam, begitu jugalah
aku berusaha menarik mereka kepada kafir, murtad atau munafik. Aku akan
menarik seluruh umat Islam dari jalan benar menuju jalan yang sesat
supaya masuk ke dalam neraka dan kekal didalamnya bersamaku.”

Pertanyaan Nabi (2):

“Hai Iblis! Bagaimana perbuatanmu kepada makhluk
Allah?”

Jawab Iblis:

“Adalah
satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pahanya kepada
lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang
salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan sholat,
terbuai dengan makan minum, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan harta
benda daripada emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya
supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan haram.

Demikian
juga ketika pesta yang bercampur antara lelaki dan perempuan. Disana
aku lepaskan sebesar-besar godaan supaya hilang peraturan dan minum
arak. Apabila terminum arak itu maka hilanglah akal, fikiran dan
malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu
maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga kepada
pekerjaan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka
mencari uang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri.

Apabila
mereka teringat akan salah mereka lalu hendak bertaubat atau berbuat
amal ibadat, aku akan rayu mereka supaya mereka menangguhkannya.
Bertambah keras aku goda supaya menambahkan maksiat dan mengambil
isteri orang. Bila kena goda hatinya, datanglah rasa ria, takabur,
megah, sombong dan melengahkan amalnya.

Bila pada lidahnya, mereka akan gemar berdusta,
mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka setiap saat.”

Pertanyaan Nabi (3):

“Hai
Iblis! Mengapa engkau bersusah payah melakukan pekerjaan yang tidak
mendatangkan faedah bahkan menambahkan laknat yang besar serta siksa
yang besar di neraka yang paling bawah? Hai yang dikutuk Allah! Siapa
yang menjadikanmu? Siapa yang melanjutkan usiamu? Siapa yang
menerangkan matamu? Siapa yang memberi pendengaranmu? Siapa yang
memberi kekuatan anggota badanmu?”

Jawab Iblis:

“Semuanya
itu adalah anugerah daripada Allah Yang Maha Besar juga. Tetapi hawa
nafsu dan takabur membuatku menjadi jahat sebesar-besarnya. Engkau
lebih tahu bahwa Diriku telah beribu-ribu tahun menjadi ketua seluruh
Malaikat dan pangkatku telah dinaikkan dari satu langit ke satu langit
yang tinggi. Kemudian Aku tinggal di dunia ini beribadat bersama
sekalian Malaikat beberapa waktu lamanya. Tiba-tiba datang firman Allah
SWT hendak menjadikan seorang Khalifah di dunia ini, maka akupun
membantah.. Lalu Allah menciptakan lelaki (Nabi Adam) lalu dititahkan
seluruh Malaikat memberi hormat kepada lelaki itu, kecuali aku yang
ingkar. Oleh karena itu Allah murka kepadaku dan wajahku yang tampan
rupawan dan bercahaya itu bertukar menjadi keji dan kelam. Aku merasa
sakit hati. Kemudian Allah menjadikan Adam raja di syurga dan
dikurniakan seorang permaisuri (Siti Hawa) yang memerintah seluruh
bidadari. Aku bertambah dengki dan dendam kepada mereka.

Akhirnya
aku berhasil menipu mereka melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam memakan
buah Khuldi, lalu keduanya diusir dari syurga ke dunia. Keduanya
berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang
Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami
hasut anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itu pun
aku masih tidak puas hati dan berbagai tipu daya aku lakukan hingga
Hari Kiamat. Sebelum Engkau lahir ke dunia, aku beserta bala tentaraku
dengan mudah dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahasia serta
tulisan yang menyuruh manusia berbuat ibadat serta balasan pahala dan
syurga mereka. Kemudian aku turun ke dunia, dan memberitahu manusia
yang lain daripada apa yang sebenarnya aku dapatkan, dengan berbagai
tipu daya hingga tersesat dengan berbagai kitab bid’ah dan carut-marut.
Tetapi ketika engkau lahir ke dunia ini, maka aku tidak dibenarkan oleh
Allah untuk naik ke langit serta mencuri rahasia, kerana banyak
Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika aku berkeras
juga hendak naik, maka Malaikat akan melontarkan anak panah dari api
yang menyala. Sudah banyak bala tenteraku yang terkena lontaran
Malaikat itu dan semuanya terbakar menjadi abu. Maka besarlah
kesusahanku dan bala tentaraku untuk menjalankan tugas menghasut.”

Pertanyaan Nabi (4):

“Hai Iblis! Apakah yang pertama engkau tipu dari
manusia?”

Jawab Iblis:

“Pertama
sekali aku palingkan iktikad / niatnya, imannya kepada kafir juga ada
dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau hatinya. Jika tidak
berhasil juga,aku akan tarik dengan cara mengurangi pahala.
Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikut kemauan jalanku”

Pertanyaan Nabi (5):

“Hai Iblis! Jika umatku sholat karena Allah,
bagaimana keadaanmu?”

Jawab Iblis:

“Sebesar-besarnya
kesusahanku. Gementarlah badanku dan lemah tulang sendiku. Maka aku
kerahkan berpuluh-puluh iblis datang menggoda seorang manusia, pada
setiap anggota badannya. Setengah-setengahnya datang pada setiap
anggota badannya supaya malas sholat, was-was, terlupa bilangan
rakaatnya, bimbang pada pekerjaan dunia yang ditinggalkannya, sentiasa
hendak cepat habis sholatnya, hilang khusyuknya matanya sentiasa
menjeling ke kiri kanan, telinganya senantiasa mendengar orang bercakap
serta bunyi-bunyi yang lain. Setengah Iblis duduk di belakang badan
orang yang sembahyang itu supaya dia tidak kuasa sujud berlama-lama,
penat atau duduk tahiyat dan dalam hatinya senantiasa hendak cepat
habis sholatnya, itu semua membawa kepada kurangnya pahala. Jika para
Iblis itu tidak dapat menggoda manusia itu, maka aku sendiri akan
menghukum mereka dengan seberat-berat hukuman.”

Pertanyaan Nabi (6):

“Jika umatku membaca Al-Quran karena Allah,
bagaimana perasaanmu?”

Jawab Iblis:

“Jika
mereka membaca Al-Quran karena Allah, maka rasa terbakarlah tubuhku,
putus-putus segala uratku lalu aku lari daripadanya.”

Pertanyaan Nabi (7):

“Jika umatku mengerjakan haji karena Allah,
bagaimana perasaanmu?”

Jawab Iblis:

“Binasalah
diriku, gugurlah daging dan tulangku karena mereka telah mencukupkan
rukun Islamnya.”

Pertanyaan Nabi (icon:

“Jika umatku berpuasa karena Allah, bagaimana
keadaanmu?”

Jawab Iblis:

“Ya
Rasulullah! Inilah bencana yang paling besar bahayanya kepadaku.
Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy dan
Kursi, bahkan seluruh Malaikat menyambut dengan suka cita. Bagi orang
yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan
digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatatkan dosanya
selama dia berpuasa. Yang menghancurkan hatiku ialah segala isi langit
dan bumi, yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya
siang malam mendoakan ampunan bagi orang yang berpuasa. Satu lagi
kemuliaan orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab
neraka. Bahkan semua pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga
dibuka seluas-luasnya, serta dihembuskan angin dari bawah Arasy yang
bernama Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga. Pada hari umatmu
mulai berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekalian Malaikat
dengan garangnya menangkapku dan tentaraku, jin, syaitan dan ifrit lalu
dipasung kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta
dimasukkan ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab
yang lain telah menunggu kami. Setelah habis umatmu berpuasa barulah
aku dilepaskan dengan perintah agar tidak mengganggu umatmu. Umatmu
sendiri telah merasa ketenangan berpuasa sebagaimana mereka bekerja dan
bersahur seorang diri di tengah malam tanpa rasa takut dibandingkan
bulan biasa.”

Pertanyaan Nabi (9):

“Hai Iblis! Bagaimana seluruh sahabatku
menurutmu?”

Jawab Iblis:

“Seluruh
sahabatmu juga adalah sebesar – besar seteruku. Tiada upayaku
melawannya dan tiada satu tipu daya yang dapat masuk kepada mereka.
Karena engkau sendiri telah berkata: “Seluruh sahabatku adalah seperti
bintang di langit, jika kamu mengikuti mereka, maka kamu akan mendapat
petunjuk.” Saidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersamamu, aku tidak
dapat mendekatinya, apalagi setelah berdampingan denganmu. Dia begitu
percaya atas kebenaranmu hingga dia menjadi wazirul a’zam. Bahkan
engkau sendiri telah mengatakan jika ditimbang seluruh isi dunia ini
dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan
Abu Bakar. Tambahan pula dia telah menjadi mertuamu karena engkau
menikah dengan anaknya, Saiyidatina Aisyah yang juga banyak menghafadz
Hadits-haditsmu.

Saidina
Umar Al-Khattab pula tidaklah berani aku pandang wajahnya karena dia
sangat keras menjalankan hukum syariat Islam dengan seksama. Jika aku
pandang wajahnya, maka gemetarlah segala tulang sendiku karena sangat
takut. Hal ini karena imannya sangat kuat apalagi engkau telah
mengatakan, “Jikalau adanya Nabi sesudah aku maka Umar boleh
menggantikan aku”, karena dia adalah orang harapanmu serta pandai
membedakan antara kafir dan Islam hingga digelar ‘Al-Faruq’.

Saidina
Usman Al-Affan lagi, aku tidak bisa bertemu, karena lidahnya senantiasa
bergerak membaca Al-Quran. Dia penghulu orang sabar, penghulu orang
mati syahid dan menjadi menantumu sebanyak dua kali. Karena taatnya,
banyak Malaikat datang melawat dan memberi hormat kepadanya karena
Malaikat itu sangat malu kepadanya hingga engkau mengatakan, “Barang
siapa menulis Bismillahir rahmanir rahim pada kitab atau kertas-kertas
dengan dakwat merah, nescaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati
syahid.”

Saidina
Ali Abi Talib pun itu aku sangat takut karena hebatnya dan gagahnya dia
di medan perang, tetapi sangat sopan santun, alim orangnya. Jika iblis,
syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah kedua mata mereka
karena dia sangat kuat beribadat serta beliau adalah golongan orang
pertama memeluk agama Islam dan tidak pernah menundukkan kepalanya
kepada sebarang berhala. Bergelar ‘Ali Karamullahu Wajhahu’ –
dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga ‘Harimau Allah’ dan engkau
sendiri berkata, “Akulah negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya.”
Tambahan pula dia menjadi menantumu, semakin aku ngeri kepadanya.”

Pertanyaan Nabi (10):

“Bagaimana tipu daya engkau kepada umatku?”

Jawab Iblis:

“Umatmu itu ada tiga macam.

Yang
pertama seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan
yaitu ulama yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan
perintah Allah serta meninggalkan laranganNya seperti kata Jibril a.s,
“Ulama itu adalah pelita dunia dan pelita akhirat.”

Yang
kedua umat tuan seperti tanah yaitu orang yang sabar, syukur dan ridha
dengan karunia Allah. Berbuat amal soleh, tawakal dan kebajikan.

Yang
ketiga umatmu seperti Firaun; terlampau tamak dengan harta dunia serta
dihilangkan amal akhirat. Maka akupun bersukacita lalu masuk ke dalam
badannya, aku putarkan hatinya ke lautan durhaka dan aku hela ke mana
saja mengikuti kehendakku. Jadi dia senantiasa bimbang kepada dunia dan
tidak hendak menuntut ilmu, tiada masa beramal ibadat, tidak hendak
mengeluarkan zakat, miskin hendak beribadat. Lalu aku goda agar minta
kaya dulu, dan apabila diizinkan Allah dia menjadi kaya maka dilupakan
beramal, tidak berzakat seperti Qarun yang tenggelam dengan istana
mahligainya. Bila umatmu terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia
senantiasa bimbang akan hartanya dan setengahnya asyik hendak merebut
dunia harta, bercakap besar sesama Islam, benci dan menghina kepada
yang miskin, membelanjakan hartanya untuk jalan maksiat, tempat judi
dan perempuan lacur.”

Pertanyaan Nabi (11):

“Siapa yang serupa dengan engkau?”

Jawab Iblis:

“Orang yang meringankan syariatmu dan membenci
orang belajar agama Islam.”

Pertanyaan Nabi (12):

“Siapa yang mencahayakan muka engkau?”

Jawab Iblis:

“Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi
palsu, pemungkir janji.”

Pertanyaan Nabi (13):

“Apakah rahasia engkau kepada umatku?”

Jawab Iblis:

“Jika
seorang Islam pergi buang air besar serta tidak membaca doa pelindung
syaitan, maka aku gosok-gosokkan najisnya sendiri ke badannya tanpa dia
sadari.”

Pertanyaan Nabi (14):

“Jika umatku bersatu dengan isterinya, bagaimana
hal engkau?”

Jawab Iblis:

“Jika
umatmu hendak bersetubuh dengan isterinya serta membaca doa pelindung
syaitan, maka larilah aku dari mereka. Jika tidak, aku akan bersetubuh
dahulu dengan isterinya, dan bercampurlah benihku dengan benih
isterinya. Jika menjadi anak maka anak itu akan gemar kepada pekerjaan
maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua karena kealpaan ibu
bapaknya sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa membaca
Bismillah, aku yang dahulu makan daripadanya. Walaupun mereka makan,
tiadalah merasa kenyang.”

Pertanyaan Nabi (15):

“Dengan jalan apa dapat menolak tipu daya engkau?”

Jawab Iblis:

“Jika
dia berbuat dosa, maka dia kembali bertaubat kepada Allah, menangis
menyesal akan perbuatannya. Apabila marah segeralah mengambil air
wudhu’, maka padamlah marahnya.”

Pertanyaan Nabi (16):

“Siapakah orang yang paling engkau lebih sukai?”

Jawab Iblis:

Lelaki
dan perempuan yang tidak mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu
ari-ari (bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situlah aku mengecilkan
diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti pijat pada bulu itu.”

Pertanyaan Nabi (17):

“Hai Iblis! Siapakah saudara engkau?”

Jawab Iblis:

“Orang
yang tidur meniarap / telungkup, orang yang matanya terbuka (mendusin)
di waktu subuh tetapi menyambung tidur lagi. Lalu aku lenakan dia
hingga terbit fajar. Demikian jua pada waktu zuhur, asar, maghrib dan
isya’, aku beratkan hatinya untuk sholat..”

Pertanyaan Nabi (1icon:

“Apakah jalan yang membinasakan diri engkau?”

Jawab Iblis:

“Orang
yang banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan tidak diketahui
orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Quran dan sholat tengah
malam.”

Pertanyaan Nabi (19):

“Hai Iblis! Apakah yang memecahkan mata engkau?”

Jawab Iblis:

“Orang yang duduk di dalam masjid serta beriktikaf di dalamnya”

Pertanyaan Nabi (20):

“Apa lagi yang memecahkan mata engkau?”

Jawab Iblis:

“Orang yang taat kepada kedua ibu bapanya, mendengar kata mereka, membantu
makan pakaian mereka selama mereka hidup, karena engkau telah bersabda,
‘Syurga itu di bawah tapak kaki ibu’”

peluang bisnis ;

kami berwiraswasta di bidang penyamakan kulit, ( pemprosesan)  kulit domba dan kerajinan kulit domba ( jaket kulit ) yg berada di sukaregang garut . bagi saudara2 yg ingin berinvestasi di sukaregang silahkan hubungi kami , email ; bayuangga909@gmail.com

Perjalanan menembus dimensi alam malaikat

Perjalanan menembus dimensi alam malaikat   

Dari ; ki hongmankim

Sebelumnya saya hongmankim hanya ingin berbagi pengalaman, karena sangat banyaknya sms, telp, email, Banyak yang bertanya siapakah mas halilintar tersebut, nama yang diberikan oleh orang tua beliau adalah Sayyid Ali Halilintar Izroil al Khan bin Basyarah bin Dzazuli, beliau sanadnya langsung ke Rosulullah SAW, keturunan Arab-Jawa (ayah) dan Arab-Sunda (ibu)…beliau adalah orang yang low profile, friendship dengan banyak kalangan atas dan bawah,….banyak para guru, dan habib-habib di nusantara, luar Indonesia (malaysia, brunei, Hongkong, singapura, mesir, irak, dll) yang belajar kebeliau….sehingga membuat dirinya bingung dan kerepotan padahal menurut beliau dia masih hijau, muda dan ilmupun punya masih jauh dari tataran sempurna……

Berikut adalah perjalanan ruhani berkenalan dengan dimensi berbagai alam….sewaktu desember tahun 2009, kami (hongmankim, Hj Agung, Ronni Samuel, Yusuf Al Rohman) khatam beberapa ilmu dan saat itu kami mencoba menembus alam dimensi malaikat dengan berbagai macam cara namun hasilnya nihil, yang ada kami hanyalah terdampar di sebuah dimensi astral para makhluq Allah lainnya seperti halnya JINN. Namun saat kami mencoba benar-benar membenahi diri semua do’a, hijib, saefi, qasam dsb, bulan januari 2010, Guru kami, tanpa angin/hujan menelpon kami untuk berkumpul..di Pantai Selatan Sukabumi, dikira kami mau wisata/pengisian khatam ilmu…namun sesaat kami berkumpul, beliau berkata:’maukah ku ajak menembus dimensi malaikat, iblis, di bumi dan langit, karena sudah lama tidak silaturahmi”.. dalam pikiran kami, semua itu tidak mungkin (bercanda)…biar bagaimana kami manusia biasa& bukan orang suci, dan level kami masih sangat jauh dibawah itu… Kemudian Kami berkomentar: “andai Ali sendiri saja, kami yakin bisa..tapi kami???dengan apa kita terbang dengan do’a Harut Marut??, sedangkan do’a dari Harut Marut tidak boleh digunakan seperti yang di ungkapkan Rosulullah Saw dalam “KITAB AL QAUL AL MUUSADDAD FI ADZ DZUBB’AN MUSNAD AHMAD”karena akibatnya kita bisa langsung dihukum siksa oleh Allah Kontan seperti Pemberi Ilmu (Harut Marut), apalagi karena memasuki Koloni Langit???? Beliau hanya tersenyum dan berkata:”sudahlah, mari kita shalat hajat Taubat, Syukur, Ikhlas dan Hajat Saefi”…karena tak mau berdebat akhirnya kamipun pasrah…dan mencoba mengejar beliau yang pergi meninggalkan kami ke tengah Deburan Ombak (dengan Ilmu Saefi Asma Sulthonin Bahri wa Barr).. setelah ditengah laut maka kami berempat dengan Mas Ali melakukan shalat sebagai Imam, kami melakukan Shalat dan Berdzikir di Tengah laut Pantai Selatan dengan dikelilingi deburan ombak…. Setelah 1jam berlalu dan dzikir sedang berlangsung…tanpa tedeng aling-aling terjadi hujan sangat lebat dan ombakpun membesar…saat itu pula portal cahaya terbuka..dan semakin membesar memenuhi lautan….berjuta-juta makhluq keluar dari cahaya tersebut..dan memperkenalkan diri…baik dari golongan malaikat Ruhaniyah, Huruf, Asma, Ayat ….mereka mengucapkan salam, dan berkata” wahai makhluk Allah (malaikat SAMSAIL AS)..hendak kemanakah kalian, mas Ali pun menjawab wahai makhluk suci, bawalah kami untuk mengenal makhluk-makhluk Allah Lainnya di Laut, saat itupula SHADLUQAN AS (sang Malaikat penjaga lautan) membawa kami memasuki portal cahaya antar dimensi untuk mengenal makhluk-makhluk Allah Lainnya di Laut..”Subhanallah”disana kami dikenalkan makhluk Air (Jin”Air, Ikan dan Putri Iblis yang terusir dari Surga dan terikat berjuta-juta tahun, yang dilemparkan oleh Ashif Bin Bakhroya, wakil Nabiyullah Sulaiman AS dan Putri tersebut Lebih kita Kenal adalah Kanjeng Gusti Ratu Kidul) Setelah itu kami pamit dan diantarkan ke Malaikat DZUL QARNAIN AS (penjaga bumi dan ditugaskan untuk menerima do’a-do’a para makhluq Allah SWT) untuk melihat dimensi lapisan bumi dan kubur dan di dimensi tersebut kami berjumpa dengan RIFYAIL AS yang ruku sampai akhir jaman dan mengucapkan: “SUBHANAL MALIKIL QUDDUS ROBBUL MALA’IKATI WAR RUH.ROBB MA ABADNA-KA HAQQO IBADATI-KA”…kemudian kami di antar kelangit dunia/pertama dan bertemu dengan Malaikat, kami bertanya wahai Ali siapakah dia?? Dialah DZUN NURAIN AS., yang disebut Rosulullah SAW malaikat yang agung dan bertugas menyampaikan doa-do’a para makhluq dari malaikat DZUL QARNAIN AS. Selanjutnya DZUN NURAIN AS., mengantarkan kami ke setiap lapis langit, namun kami hanya mencapai langit ke 3 dikarenakan kekeruhan Jiwa kami sendiri, sedangkan Khan dan DZUN NURAIN AS., meneruskan ke lapis selanjutnya….namun pengalaman menakjubkan yang disampaikan kami maupun Ali ini adalah Saat memasuki potral cahaya dimensi langit dunia/pertama terlihat para malaikat yang menjaga dan sebanyak bintang dan terdengar suara tasbih, tahlil dan takbir. Kemudian kami bertanya apa yang mereka ucapkan, dengarlah dengan kesucian batinmu sehingga jasadmupun mendengar…maka terdengarlah lantunan “Subhana robbina al a’la, dzil malakil wal malakut”

Dan setip shaff (Barisan) tahap 1; terdengar ucapan :”Subhanal malik dzil muluk . Barisan tahap 2;Subhana dzil ‘izzati wal jabarut, dan 70.000 lapis dan terdiri dari 70.000 lapis…suara tasbihnyapun berbeda-beda…dan setiap lapis terdiri dari 70.000 lapis cahaya dan 70.000 malaikat, dan lapisan tersebut terus secara integral…sangatlah berlapis. Potral cahaya dimensi Lapis langit kedua; kami lihat penghuninya (para malaikat) sejumlah tetesan hujan yang bertebaran di angkasa dari Timur ke barat dan tiada henti dan tiada henti pula mengucapkan: “Subhanahu dzil’izzati, wal jabarut wa ta’ala”. Lapis langit ketiga: Terlihat penghuni (para malaikat) bermetrix-metrix ton pasir yang tidak terhingga yang mengisi langit berdo’a sepenuh hati mengucapkan“Subhanahu wabihamdihi al hayyil ladzi layamut”. Potral cahaya dimensi Lapis langit keempat: Para penghuninya bershaf-shaf banyaknya dan berwujud bidadari yang sangat cantik, elok, aduhai, luarbiasa dan mereka mengucapkan“Subhanahu lahaula wala quwwata illa billah”, Disaat hati kami berempat tergoda karena keindahan yang tiada tandingannya…karena wanita di bumi belum ada apa-apanya kecantikannya…maka saat itu juga kami di usir dan kembali ke Lapis Ke3

Berikut adalah petikan kisah Khan:
Potral cahaya dimensi Lapis langit kelima: Para penghuni malaikat berlipat ganda dari seluruh makhluk yang diciptakan, diantaranya terdapat malaikat penulis amal, dan mereka mengucapkan“Subhanahu muhyil mauta wa huwa ‘ala kulli syai’in qodir. Potral cahaya dimensi Lapis langit keenam: Ada Pasukan Allah dan bala tentaranya yang sangat besar dan mengucapkan“Subahanal maliki quddus” . Potral cahaya dimensi Lapis langit ketujuh: terdiri dari pasukan malaikat muqorobin AS“Subhanalladzi mala’as samawat as sab’iwal aradhin as sabi’I ‘izzatan wa waqaran”. Potral cahaya dimensi Lapis Langit Kedelapan: Terdiri dari malaikat penjunjung Arsy al Karubbiyun
Saat di lapis ke-8 Malaikat MAITOTORUN AS pejaga Lapis ke 8 dan bi alfi alfi MAITOTORUN AS (pasukan malaikat yang ber-juta”jumlahnya dengan wajah yang sama dengan Sayyidina MAITOTORUN AS/pemimpinnya, berkata: aku mendapatkan pesan untukmu dari Allah Ali:”Sayyid Ali, hanya Kakek buyutmu Rosulullah SAW dan Adam AS yang dapat bertemu denganNYA & yang dapat Berdekatan hanyalah adalah NUR MUHAMMAD dan NUR Ali, Usman, Abu Bakar, Utsman. Dan hasan-husein dan 12 imam… Andai kata memaksakan diri, engkau akan di bunuh oleh Para Malaikat, bila tidakpun…tidak ada satupun Makhluk yang tahan akan Cahaya Allah dan langsung terbakar…begitu pula kami para malaikat….. bersyukurlah dan berbahagialah engkau selaku manusia karena hanya para Auliya yang Maqomnya sempurna tak terbatas, bisa mencapai lapisan ini…maka dengan langkah gontai beliaupun menemui kami dan selanjutnya kamipun kembali ke dimensi Dunia manusia… Potral cahaya dimensi Lapis Langit Kesembilan: Tempat bersemayamnya Sang Khaliq . Berikut sebagian pengalaman Kami, kesemuanya menggunakan saefi Asma Sulthonin Bahri wal Barr wal Masryik minal Maghribh dan Sulthonin Saefi bersama guru kami, semoga menjadi pembelajaran tentang sebagian nama malaikat dan kondisi setiap lapis langit yang kami share….serta sangat pentingnya dan utamanya Tasbih di mata para malaikat dan Allah SWT. Serta menjaga kebersihan raga dan batin….karena hanya dengan hal tersebut semua ilmu dapat terkuasai dan mencapai maqom yang tinggi…dan Kesemuanya agar kita tahu kebesaran dan keluasan ilmu Allah SWT…