Diproteksi: Doa Hizib Bentengan

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Iklan

Maqam syariat

Maqam syariat

Tertulis di kitab sirul asror, bahwasanya nabi bersabda “ilmu syariat itu pohon, rantingnya ilmu thoriqoh, daunnya ilmu ma’rifat, dan buahnya adalah ilmu hakikat”.
Maka itu, ilmu syariat jika ilmu syariat tidak di amalkan bakal tidak berdaun dan berbuah.
Nabi saw bersabda, “ilmu jika tidak di amalkan seperti pohon yang tidak berbuah”.
Ilmu yang di maksud di sini adalah ilmu syariat (dasar dasar ilmu). Untuk mengamalkannya yaitu dengan ilmu thoriqoh (metode/tata cara/teori), untuk melaksanakan teori harus punya pembimbing yang mengerti dan sudah mahir yang di sebut ahli hakikat, dan ilmunya adalah ilmu hakikat. Ahli hakikat inilah yang membimbing kita yang mana mereka di sebut mursid atau pemberi arahan agar kita begini atau begitu. Nah untuk melaksanakan atau ilmu hakikat kita harus mengamalkan arahan mursid maka kamu akan dapat buahnya.
Daun (ilmu makrifat) di dalamnya sari sari ilmu di godog dan akan menghasilkan buah. Ilmu makrifat itu ya adanya pada ulama ahli hakikat. Merekalah yang menggodog ahli makrifat ketingkatan ahli makrifat. Jika sudah maka buahnya akan terlihat.
Jadi maqomnya,
* syariat (ilmu dasar) ilmunya adalah ilmu fiqih , yaitu ilmu tentang tata cara ibadah yg benar.
* thoriqoh (jalan ) ilmunya adalah tasawuf , yaitu ilmu tentang thariqoh, metode atau tahapan dalam dzikir dan akhlakul karimah ( budi pekerti yg luhur )
* hakikat (buahnya ) yg di ibaratkan syariat itu perahu , thariqah itu lautan dan hakikat adalah mutiaranya.

untukmemperbaiki anggota tubuh dengan 3 perkara yaitu :
1.taubat
2. taqwa
3. istiqomah
untuk memperbaiki nafsu dengan 3 perkara :
1. zuhud
2. mujahadah
3. sabar
cara memperbaiki hati dengan 3 perkara :
1. ikhlas
2. jujur
3. tenang
dan untuk memperbaiki sirr dengan 3 perkara :
1. muraqobah
2. musyahadah
3. ma’rifat

tingkatan nafsu ada 8.

Pertama Nafsu amarah warnanya biru, wiridnya yang pas “lailaha ilalloh” dan “wahhab”.
Kedua nafsu lawamah warnanya merah, wiridnya allohu. dan fattahu.
Ketiga mulhamah, warnanya hijau, dzikirnya huwa wahidu.
Ke empat mutmainah, cahayanya putih. Wiridnya haqqu ahadu.
Ke lima nafsu rodiyah cahayanya kuning.
Ke enam mardiyah, cahayanya hitam.
Ke tujuh nafsu sofiyah.
Ke delapan nafsu kamilah cahayanya tidak ada warna (buka kitab sirul asror halaman 98 tentang maqom nafsu).. Jika salah mohon di koreksi.
Bisakah maqom di mulai dari maqom hakikat dulu?. Jawabnya bisa. Bisa di buka kitab al hikamnya. Kadang maqom itu di mulai dari ilmu hakikat (buah). Buah di dalam buah ada bijinya dan rasanya. Rasa buah itulah hakikat apakah ia manis, kecut, atau pahit.
Nah ketika buah habis kita bisa menanam biji buah itu. Muncullah pohon, yang dimulai dari akar, yang mana pohon dan akar adalah syariat dan seterusnya sampai tingkatan maqom hakikat. Wallohu a’lam.
Jadi islam itu ada maqomnya, maqom pertama pohon yang di sebut syariat islam, kedua cabang atau ranting yang di sebut thoriqoh islam (yang terpecah jadi 73 golongan, yang selamat thoriqohnya ahlu sunnah waljamaah), ketiga daun yaitu ilmu ma’rifat (terbagi 2 ulama ma’rifat dari 73 cabang thoriqoh.( pakpik ).

Wali Band

maqam sabar

Maqam sabar

Aspek kesabaran sangat luas, lebih luas dari apa yang selama ini dipahami oleh orang mengenai kata sabar. Imam al-Ghazali berkata, “Bahwa sabar itu ada dua; pertama bersifat badani (fisik), seperti menanggung beban dengan badan, berupa pukulan yang berat atau sakit yang kronis. Yang kedua adalah al-shabru al-Nafsi (kesabaran moral) dari syahwat-syahwat naluri dan tuntutan-tuntutan hawa nafsu. Bentuk kesabaran ini (non fisik) beraneka macam;
Jika berbentuk sabar (menahan) dari syahwat perut dan kemaluan disebut iffah
Jika di dalam musibah, secara singkat disebut sabar, kebalikannya adalah keluh kesah.
Jika sabar di dalam kondisi serba berkucukupan disebut mengendalikan nafsu, kebalikannya adalah kondisi yang disebut sombong (al-bathr)
Jika sabar di dalam peperangan dan pertempuran disebut syaja’ah (berani), kebalikannya adalah al-jubnu (pengecut
Jika sabar di dalam mengekang kemarahan disebut lemah lembut (al-hilmu), kebalikannya adalah tadzammur (emosional)
Jika sabar dalam menyimpan perkataan disebut katum (penyimpan rahasia)
Jika sabar dari kelebihan disebut zuhud, kebalikannya adalah al-hirshu (serakah)
Kebanyakan akhlak keimanan masuk ke dalam sabar, ketika pada suatu hari Rasulullah saw ditanya tentang iman, beliau menjawab: Iman aadalah sabar. Sebab kesabaran merupakan pelaksanaan keimanan yang paling banyak dan paling penting. “Dan orang-orang yang sabar dalam musibah, penderitaan dan dalam peperangan mereka itulah orang-orang yang benar imannya, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Baqarah [2]: 177)
Dari itu kita dapat memahami mengapa al-Qur’an menjadikan masalah sabar sebagai kebahagiaan di akhirat, tiket masuk ke surga dan sarana untuk mendapatkan sambutan para malaikat. Dalam surat Al-Insan [72]: 12 “Dan Dia memberi balasan kepada mereka atas kesabaran mereka dengan surga dan (pakaian) sutera”. Dalam surat Ar-Ra’d [13]:23-24 “…Dan para malaikat masuk kepada tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan); keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”
Sabar, Suatu Kekhasan Manusia
Sabar adalah kekhasan manusia, sesuatu yang tidak terdapat di dalam binatang sebagai faktor kekurangannya, dan di dalam malaikat sebagai faktor kesempurnaannya.
Tetapi manusia adalah makhluk yang dicipta dalam suatu proses perkembangan; merupakan makhluk yang berakal, mukallaf (dibebani) dan diberi cobaan, maka sabar adalah “kekuatan” yang diperlukan untuk melawan “kekuatan” yang lainnya. Sehingga terjadilah “pertempuran” antara yang baik dengan yang buruk. Yang baik dapat juga disebut dorongan keagamaan dan yang buruk disebut dorongan syahwat.
Al-Qur’an telah mengisyaratkan pentingnya kesabaran ini. Ketika mengyinggung masalah penciptaan manusia dan cobaan penderitaan yang akan dihadapinya. Dalam surat Al-Insaan [76]: 2 “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang tercampur yang Kami hendak mengujinya )dengan perintah dan larangan)”.

Sholawat