Diproteksi: Ilmu Pembungkam Versi Jawa I

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Iklan

Kekayaan tujuh turunan, berkat Aji Balung Sugih

Ada orang yang mengatakan bahwa kekayaan seseorang bisa mencapai ‘tujuh turunan’. Artinya kekayaan yang dimiliki orang tersebut berlipah ruah sehingga ‘nyaris’ seluruh kebutuhan serta keinginannya bisa dicapai.

Konon kisah ini dialami oleh seorang yang bernama, sebut saja Hardi. Dia telah menyelesaikan pendidikan tingginya dan bekerja pada sebuah perusahaan. Sampai pada akhirnya, dia harus merelakan diri untuk meninggalkan pekerjaannya itu karena perusahaan tidak sanggup lagi untuk memberinya gaji.

Pengalaman pahit itu harus dihadapinya, tetapi Hardi bukan tipe orang yang mudah menyerah. Dia berusaha dengan bermodalkan ‘patungan’ bersama rekannya. Tetapi entah kesalahan apa yang diperbuatnya. Usahanya kali ini, juga mengalami kegagalan dan dia beserta rekannya itu mengalami kebangkrutan.

Masih tidak pernah putus harapan, Hardi nekat menjual harta warisan yang berupa tanah dan bangunan untuk memulai usahanya yang baru. Kali inipun dewi fortuna belum berpihak kepadanya. Sekali lagi dia harus menelan pil pahit. Bisnis barunyapun akhirnya mengalami gagal total.

Sampai suatu hari dia mendengar cerita orang bahwa, ada seorang perempuan yang memiliki kekuatan supranatural yang tinggi serta kemampuan daya linuih yang tinggi. Wanita ini terkenal dengan sebutan Djeng Asih atau Asih Marlyna.

Setelah menceritakan seluruh pengalamannya kepada Djeng Asih. Kemudian Hardi diberi suatu yang dinamakan Ajian Balung Sugih. Sejak saat itu segala bentuk usahanya mulai menampakkan hasil.

Sekarang ini dia telah memiliki ‘segalanya’ secara berlimpah, sehingga orang memandangnya kekayaannya sampai untuk tujuh turunan

Nyai Puspo Cempoko, memberi harta lewat senggama

Salah satu pesugihan yang cukup kondang bagi masyarakat Rembang adalah Nyai Puspo Cempoko. Bila lelaki bersedia menjadi suami silumanan ini dan melakukan senggama setiap malam Jumat Kliwon maka ia rela memberikan harta yang bejibun. Apa kompensasi lainnya?

Nyai Puspo Cempoko adalah penunggu gaib di daerah Kabongan, Rembang. Bagi kalangan kebatinan tempat tersebut mempunyai nilai mistik yang sangat tinggi. Beberapa orang sering datang ke Kabongan untuk melakukan ziarah dengan tujuan tertentu. Kabarnya, mereka datang untuk meminta kekayaan.

Konon, para peziarah banyak yang dikabulkan keinginannya sehingga mereka menjadi kaya raya. Menurut cerita yang beredar kekayaan itu tidak diberikan secara cuma-cuma. Nyai Puspo meminta sejumlah imbalan kepada peziarah yang menginginkan kekayaan darinya. Kabarnya, syarat yang diajukan cukup unik.

Pencari pesugihan harus rela menjadi suami Nyai Puspo yang harus melayani kebutuhan seksualnya setiap malam Jumat Kliwon. Guna menyalurkan hasrat itu Nyai Puspo minta disediakan kamar khusus dimana hanya mereka berdua saja yang boleh masuk ke kamar tersebut.

Selain memenuhi kebutuhan seksual, Nyai Puspo juga meminta agar disediakan sesaji yang terdiri dari jajan pasar, kembang wangi, kelapa hijau serta bakaran kemenyan madu. Semua sesaji harus disediakan setiap malam. Tak boleh ada yang terlupakan.

Nasir, orang kaya di daerah Tuban dikabarkan pernah mencari pesugihan di tempat tersebut. Sebelumnya, ia hanyalah anak petani miskin. Setelah tirakat di Kabongan, ia pulang ke kampung halamannya dan merintis berbagai usaha. Meski sukses memetik harta, ia tak berani kawin. Mungkin ia masih ingat dengan persekutuan gaib yang telah dijalani dengan Nyai Puspo.

Menurut pembantunya, Nasir memiliki kamar khusus yang tidak boleh dimasuki oleh siapa pun, termasuk sang pembantu. Tiap malam Jumat Kliwon, pembantu Nasir selalu mendengar suara mesra yang datangnya dari balik kamar. Setelah diintip dari lubang kunci, ia mendapati majikannya sedang bermesaraan dengan seorang perempuan. Pembantu itu heran karena selama ini ia tak pernah membukakan pintu untuk tamu tersebut.

Diduga, perempuan itu adalah siluman Nyai Puspo. Apalagi setiap hari Nasir selalu menyediakan sesaji seperti yang diminta oleh Nyai Puspo. Dugaan itu makin kuat, selain tidak menikah di usia lanjut, Puspo pun sering berbicara sendiri. Bila diajak berbicara, jawabannya sering ngelantur, tak jelas tujuannya. Padahal, fenomena seperti itu biasanya dialami oleh mereka yang mencari pesugihan di daerah Kabongan, Rembang.

Wewe mandi tiap Malam Selasa Kliwon

Seperti halnya bangsa manusia, wewe pun mengenal mandi. Bedanya, mereka tidak mandi setiap hari, tetapi selapan (35 hari) sekali. Pada malam Anggara Kasih atau Selasa Kliwon, wewe mandi di sungai. Kedatangannya membuat bulu kuduk berdiri…

Tempat yang paling digemari oleh wewe adalah sungai yang angker dan wingit. Di sungai seperti inilah mereka membasuh tubuhnya. Jangan bayangkan tubuh wewe bagai tubuh manusia. Memang, mereka memiliki anggota badan seperti halnya manusia, tetapi ukuran mereka terlampau besar dan tidak proporsional.

Kedatangannya ke sungai ditandai dengan firasat yang hanya dapat ditangkap oleh mereka yang memiliki kekuatan ghaib. Kabarnya, kedatangan makhluk halus ini ditandai dengan angin yang berhembus kencang. Meski dasyat, angin itu tak mampu menggerakkan dedaunan yang ada di sekitar sungai.

Kontras memang. Angin yang begitu dasyat tak menggoyahkan daun-daunan. Setelah itu, dengan pakaian lengkap mereka akan menuju kolam yang sangat jernih. Mata awam melihat tempat itu sebagai sungai yang kotor. Tapi, secara magis, tempat itu adalah kolam yang sangat jernih.

Perlahan-lahan mereka akan menanggalkan bajunya. Baju yang dikenakan oleh wewe menyerupai jubah, panjang sampai ke tanah. Jangan bayangkan bentuk tubuhnya kecil seperti manusia. Bentuk tubuh wewe sangat besar dan tinggi. Meski demikian mereka mampu menggelantung pada dahan pohon yang amat kecil.

Setelah pakaiannya dilepas, bentuk tubuh wewe terlihat jelas. Ya…ampun, bentuknya sangat mengerikan. Hidungnya panjang dan bengkok mirip seorang nenek sihir dalam perfilman. Rambutnya panjang terurai. Yang lebih menyeramkan adalah bentuk buah dada yang terjuntai sampai ke betisnya.

Konon, para wewe memilih mandi pada malam Selasa Kliwon karena mereka beranggapan malam itu adalah malam yang suci. Pantas, pada malam Anggara kasih para wewe bersuka ria membersihkan badannya.